WCC Puantara Buka Ruang Aman, Film Jadi Senjata Lawan KDRT
#Pendidikan #Politik #BogorRaya #Peristiwa #Nasional #Hukum & Kriminal #Pemerintah #Teknologi #Lifestyle #Ekonomi #Olahraga #Kesehatan
SURABAYA I POTRETEDUKASI– Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) masih menjadi luka tersembunyi di banyak keluarga Indonesia. Dalam rangka Hari Perempuan Internasional 2026, Women Crisis Center (WCC) Puantara menghadirkan Seminar Publik.
Seminar ini bertajuk “Melalui Film, Kolaborasi Multi Pihak dalam Pencegahan dan Penanganan KDRT” di Kantor DP3APPKB Kota Surabaya. Acara ini menjadi ruang edukasi sekaligus ruang aman bagi korban dan masyarakat untuk bersuara.
Sebanyak 60 pengemudi Grab Surabaya ikut serta, berbagi pengalaman sebagai individu yang pernah mengalami maupun menyaksikan KDRT. Kehadiran mereka menegaskan bahwa kekerasan domestik bukan hanya urusan pribadi, tetapi berdampak luas pada komunitas.
Diskusi dibuka dengan pemutaran trailer film “Suamiku, Lukaku” karya sutradara Viva Westi. Ia menekankan kekuatan film sebagai medium refleksi.
“Film bisa menjadi jembatan antara pengalaman personal korban dengan kesadaran kolektif masyarakat. Banyak kekerasan yang tidak terlihat, tapi dampaknya sangat nyata dan panjang bagi korban,” ujarnya.
Dari sisi hukum, Ganis Setya Ningrum, Direktur Perlindungan Perempuan dan Anak Polda Jawa Timur, menegaskan bahwa KDRT adalah tindak pidana dengan mekanisme pelaporan dan perlindungan yang jelas.
“Korban KDRT memiliki hak atas perlindungan, pendampingan, dan kerahasiaan. Masyarakat jangan ragu melapor ketika mengalami atau mengetahui adanya kekerasan,” tegasnya.
Sementara itu, Siti Mazumah, Pembina WCC Puantara, mengingatkan bahwa KDRT tidak hanya berupa kekerasan fisik."Hinaan, kontrol berlebihan, pembatasan ekonomi, dan penelantaran adalah bentuk kekerasan yang diakui undang-undang,” jelasnya.
Dukungan psikososial juga menjadi sorotan. Siti Yunia Mazdafiah, Direktur Savy Amira, menekankan pentingnya pendampingan yang empatik dan berperspektif trauma agar korban bisa pulih tanpa tekanan.
Untuk menjaga rasa aman, WCC Puantara menyediakan layanan Psychological First Aid (PFA) selama seminar.
Pendamping siap membantu peserta yang mengalami distress emosional akibat materi diskusi maupun film. Melibatkan pengemudi Grab sebagai peserta utama dipandang strategis.
"Sebagai pekerja yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, kami dapat menjadi saksi sosial sekaligus agen perubahan dalam pencegahan kekerasan berbasis gender," tutupnya.
Red

