WALHI Jabar: Irigasi Cikumpeni Lumpuh, Ketahanan Pangan Kabupaten Bogor Terancam
#Pendidikan #Politik #BogorRaya #Peristiwa #Nasional #Hukum & Kriminal #Pemerintah #Teknologi #Lifestyle #Ekonomi #Olahraga #Kesehatan
TANJUNGSARI I POTRETBOGOR-Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat (WALHI Jabar) menyoroti krisis irigasi yang kini menghantam sentra pertanian Kecamatan Tanjungsari, Kabupaten Bogor.
Saluran Irigasi Cikumpeni—urat nadi pengairan sawah di lima desa—mengalami gangguan parah akibat sedimentasi yang diduga kuat berasal dari aktivitas Galian C di sekitar Sungai Cibeet.Kondisi ini bukan sekadar gangguan teknis.
WALHI menilai kerusakan irigasi telah mengancam ketahanan pangan daerah dan memukul ribuan petani yang bergantung pada aliran air Cikumpeni.
Sawah Premium Terancam: Produksi Turun, Panen MenyusutKetua Dewan Daerah WALHI Jabar, Dedi Kurniawan, mengungkapkan bahwa Tanjungsari memiliki 790 hektare sawah produktif dengan potensi produksi mencapai 10.000 ton beras premium per tahun.Namun kini, potensi itu merosot tajam.
"Sedimentasi dari Sungai Cibeet masuk ke Dam Irigasi Cikumpeni. Pengairan sawah terganggu parah. Petani hanya bisa panen sekali setahun, dan tonase hasil panen turun drastis,” ujar Dedi, Sabtu (18/7/2026).
Dedi menyebut kondisi ini sebagai “pukulan telak” bagi petani yang sudah berulang kali menyampaikan keluhan kepada Pemkab Bogor, namun belum mendapat solusi nyata. Kontradiksi Kebijakan: Ketahanan Pangan Digembar?gemborkan, Lahan Produktif DibiarkanDedi menyoroti ironi kebijakan pemerintah.
“Di satu sisi pemerintah menggaungkan ketahanan pangan. Di sisi lain, kawasan produksi beras kelas A justru dibiarkan terbengkalai,” kritiknya.
Investigasi WALHI Jabar bersama FK3I Jabar dan masyarakat lima desa menunjukkan sedimentasi masif berasal dari dua perusahaan tambang yang diduga tidak memenuhi standar lingkungan.Tuntutan WALHI: Normalisasi, Audit Lingkungan, dan Pendampingan Petani
WALHI Jabar mendesak pemerintah di tiga level (Pemkab, Pemprov, hingga Pusat) untuk segera mengambil langkah tegas: Normalisasi Sungai, membersihkan sedimentasi di Sungai Cibeet dan Dam Irigasi Cikumpeni agar aliran air kembali normal.
Audit Lingkungan, memeriksa izin dan AMDAL dua perusahaan tambang yang diduga menjadi sumber sedimentasi.
Pendampingan Petani, memulihkan produktivitas lahan dan memastikan petani tidak terus menjadi korban.WALHI dan FK3I menegaskan komitmen untuk terus mengawal advokasi hingga irigasi sepanjang 8,5 kilometer kembali berfungsi dan hak-hak petani dipenuhi.
Petani Menunggu Tindakan Nyata Pemkab Bogor
Relawan petani, Syarif Hidayat dan Abdul Gofur, mengungkapkan bahwa Pemkab Bogor sempat melakukan pengerukan sedimen pada 18 Juni 2026. Namun penanganan itu bersifat sementara dan belum menyentuh akar masalah.
Para petani kini menuntut Kepala Dinas PU Kabupaten Bogor turun langsung meninjau kondisi Sungai Cibeet dan Irigasi Cikumpeni bersama kelompok tani. Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas PU belum memberikan tanggapan atas aspirasi tersebut.(Sab/bc)
Editor: Bck

