SPMB SMPN 1 Sukaraja Bogor 2026: Kursi Kosong Diduga Jadi Lahan Bisnis?



SUKARAJA I POTRETBOGOR-Proses Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) di SMP Negeri 1 Sukaraja, Kabupaten Bogor kembali menuai sorotan tajam. Sebanyak 33 siswa yang gagal melakukan daftar ulang dinyatakan gugur, namun data pengganti mereka justru ditutup rapat oleh pihak sekolah. 



Publik mempertanyakan transparansi, karena nama-nama siswa yang gugur maupun yang menggantikan tidak pernah diumumkan. Data siswa gugur: 33 slot kosong akibat kegagalan daftar ulang tidak dipublikasikan secara jelas.


Sementara klaim pihak sekolah, Kepala Sekolah dan Humas menyatakan bahwa sistem pengganti otomatis berasal dari aplikasi milik Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor.  


"Sampai hari H dan waktu yg telah ditentukan tidak daftar ulang, karena sudah daftar di kota Bogor. Spmb berdasarkan sistem, otomatis pengganti nya urutan berikutnya," ujar Humas SMPN 1 Sukaraja, Heru, Rabu (8/7/2026).


DIsinggung terkait data siswa yang gugur akibat tidak daftar ulang dan data pengganti bagi yang gugur tersebut, pihaknya memilih menutup diri dan menyarankan untuk ke Disdik Kabupaten Bogor.


"Maaf saya tidak punya datanya.

Yang buat aplikasi dari dinas, kami hanya pelaksana di lapangan.

Silakan bapak kroscek ke dinas," kilah Heru.


Kasus ini menimbulkan dugaan adanya kongkalikong antara oknum guru SMP dan pejabat Disdik Kabupaten Bogor. Transparansi publik seolah diabaikan, padahal data penerimaan siswa adalah hak masyarakat untuk diketahui. 


Ketertutupan ini membuka ruang spekulasi bahwa proses seleksi bisa dijadikan ajang bisnis oleh pihak-pihak tertentu.


Ketua LSM Penjara Bogor Raya, Romi Sikumbang, menilai praktik ini sebagai bentuk pelanggaran keterbukaan informasi publik. Ia menduga ada permainan yang merugikan masyarakat dan menuntut agar Disdik segera membuka data secara resmi.


"SPMB SMPN 1 Sukaraja kini menjadi cermin buram tata kelola pendidikan di Kabupaten Bogor. Tanpa transparansi, publik akan terus mencurigai dugaan adanya praktik curang yang merusak kepercayaan terhadap institusi pendidikan," tegasnya.


Sementara itu, beberapa orang tua siswa mengatakan dari siswa yang sebelumnya tidak lolos dan saat ini dinyatakan lolos, hal itu diakuinya adanya biaya yang dikeluarkan sebagai imbalan kepada oknum.(red)

Potretbogor Iklan dan TV