Samen Sekolah Negeri di Kecamatan Babakan Madang Bogor: Kepala Sekolah Bandel, K3S Mandul




BABAKAN MADANG I POTRETPENDIDIKAN– Fenomena sekolah negeri di Kecamatan Babakan Madang yang nekat menggelar acara perpisahan siswa (samen) kembali mencuat. 


Dalih yang digunakan beragam, ada yang mengaku dibiayai pihak sekolah, ada yang menyerahkan biaya kepada orang tua, bahkan ada yang berdalih sekolah hanya bertindak sebagai fasilitator. 


Kasus ini mencerminkan lemahnya ketegasan Ketua K3S Babakan Madang serta bandelnya oknum kepala sekolah.Contoh nyata terjadi di SDN Cipambuan, yang berdalih acara dibiayai sekolah, dan SDN Cijayanti 01, yang menyebut acara sepenuhnya urusan orang tua dan komite. 


Dalih-dalih ini dinilai publik sebagai bentuk cuci tangan dari tanggung jawab, sekaligus pelanggaran terhadap aturan penggunaan dana BOS dan larangan pungutan wajib.



Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Universitas Djuabda cabang Kabupaten Bogor, Nadi menegaskan jika acara perpisahan seharusnya fokus pada substansi kelulusan dan rasa syukur, bukan ajang pamer kemewahan yang konsumtif. 


Menurutnya, di tengah situasi ekonomi sulit, biaya seremonial satu hari tidak boleh mengorbankan masa depan anak untuk melanjutkan pendidikan berikutnya. Pendidikan harus berwatak sosial dan empati. 


"Jika sebuah acara perpisahan justru melahirkan air mata bagi orang tua karena bingung mencari pinjaman uang, maka acara tersebut telah gagal total dalam mengajarkan nilai kemanusiaan kepada siswanya," jelas Nadi, Jumat (19/6/2026).


Lebih jauh, tindakan ini jelas melanggar UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 11 Ayat 1, yang menegaskan bahwa pemerintah dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana pendidikan bagi setiap warga negara usia 7–15 tahun tanpa pungutan biaya.


"Dinas Pendidikan dan Inspektorat harus  segera melakukan audit. Menjatuhkan sanksi tegas kepada oknum kepala sekolah yang terbukti melanggar aturan demi ego seremonial," tegasnya.


Nadi menambahkan, Disdik harus memastikan sekolah tidak lagi menjadi fasilitator kesenjangan sosial melalui acara perpisahan yang membebani orang tua.(bil/bc)

Potretbogor Iklan dan TV