Perjuangan H.Badar, Anak Desa yang Tak Pernah Menyerah
#Pendidikan #Politik #BogorRaya #Peristiwa #Nasional #Hukum & Kriminal #Pemerintah #Teknologi #Lifestyle #Ekonomi #Olahraga #Kesehatan
BANJARNEGARA I POTRETINSPIRASI - Tahun 1980-an Di tengah dinginnya pagi dan kerasnya hidup desa, seorang bocah bernama Badar menorehkan kisah perjuangan yang layak diabadikan. Demi sekolah, ia rela menjadi pekerja cilik, memunguti kopi di kebun orang, mencari daun jati di kuburan, hingga berjualan es sunduk dan gula merah.
*Masa SD: Kopi dan Daun Jati Jadi Uang Jajan*
Tahun 1982, Badar yang masih duduk di SDN 1 Karanganyar, Purwanegara, sudah terbiasa bangun pukul 05.30. Ia bergegas ke kebun kopi Kaki Rakis, memunguti buah kopi yang jatuh, lalu menjual bijinya ke warung Bibi Misem. Sore harinya, ia mencari daun jati di kuburan Sawangan untuk dijual ke tukang tahu.
*Masa SMP: Berjualan Es Sunduk*
Setelah lulus SD, Badar bertekad melanjutkan ke SMPN 1 Mandiraja. Untuk biaya sekolah, ia berjualan es sunduk yang diambil dari Ko Juat di Pasar Mandiraja. Sepulang sekolah, ia berkeliling menjajakan dagangannya. Tahun 1987, ia resmi menamatkan SMP.
*Merantau ke Jakarta: Asongan dan Kenek Angkot*
Selepas SMP, Badar merantau ke Jakarta. Ia berjualan rokok asongan di Tiptop Rawamangun, Terminal Pulogadung, hingga Cempaka Putih. Nasib mempertemukannya dengan Pak Marbun, seorang sopir yang mengajaknya menjadi kenek mobil Zebra. Namun kerasnya hidup membuatnya tak betah. Ia sempat tidur di angkot yang diparkir di pinggir pemakaman umum, sebelum akhirnya nekat pulang kampung.
*Tekad Melanjutkan SMA: Jualan Gula Merah ke Jakarta*
Di kampung, Badar sadar: pendidikan adalah jalan keluar. Ia mendaftar ke SMA swasta, dan setiap hari libur berjualan gula merah ke Jakarta dengan bus Panca Jaya. Berkat ketekunan, ia berhasil lulus SMA pada tahun 1991.
*Pesan Inspiratif untuk Generasi Muda*
Kini, H. Badar menatap masa depan dengan rasa syukur. Ia berharap anak-anak zaman sekarang bisa meraih sukses dengan kemandirian, tanpa bergantung penuh pada orang tua.
“Semoga kisah ini bisa menginspirasi, apa yang kita lakukan dengan kerja keras dan baik, maka akan mendapatkan tempat yang baik juga. Selamat Tahun Baru 2026, semoga segalanya lebih baik,” ujarnya penuh harapan, ditemui Senin, 30 Desember 2025.
Kisah Badar adalah potret nyata perjuangan anak desa di era 1980-an. Sebuah inspirasi bahwa kerja keras, tekad, dan kemandirian mampu membuka jalan menuju masa depan yang lebih cerah.
Penulis: H.Badar
Editor. : Asep Sbc

