Peresmian Klinik Parung Bogor Berujung Ironi: Warga Pingsan Demi Seremoni Pejabat


BOGOR I POTRETBOGOR– Alih-alih menjadi momen bersejarah bagi peningkatan layanan kesehatan masyarakat, peresmian Klinik Utama Rawat Inap Parung di Desa Cogreg, Kabupaten Bogor, Selasa (23/12/2025), justru berubah menjadi tontonan ironi. 


Belum resmi beroperasi, klinik ini lebih dulu mencatat “korban” ketika sejumlah warga pingsan akibat berdesakan dan menunggu terlalu lama di bawah terik matahari.  


Sejak pukul 07.00 WIB, ratusan warga didominasi ibu-ibu dan lansia memadati area klinik demi mendapatkan jajanan gratis dari 18 UMKM yang disiapkan panitia. 


Namun hingga lewat pukul 10.00 WIB, tak satu pun stan dibuka. Warga dibiarkan menunggu tanpa kepastian, hanya karena adanya instruksi agar UMKM tidak melayani sebelum Bupati tiba.  


 “Kami dapat instruksi untuk tidak membagikan jajanan sebelum bupati datang ke UMKM,” ungkap Roni, salah satu panitia.  


Kebijakan ini memicu penumpukan massa dan antrean panjang. Akibatnya, sedikitnya dua orang ibu-ibu pingsan karena kelelahan dan panas menyengat. 


Ironisnya, para korban justru harus dilarikan ke dalam klinik yang sedang diresmikan fasilitas kesehatan yang belum benar-benar beroperasi.  


Peristiwa tersebut memicu kemarahan warga. Banyak yang menilai panitia gagal total dalam mengelola acara dan abai terhadap keselamatan publik.  


“Ini acara kesehatan, tapi malah bikin orang sakit. Kalau begini, di mana tanggung jawab panitia?” keluh Abdullah, salah seorang warga.  


Alih-alih menjadi simbol pelayanan kesehatan, peresmian klinik justru menampilkan wajah buruk penyelenggaraan acara pemerintah, seremonial pejabat lebih diutamakan dibanding kemanusiaan. Warga dijadikan latar keramaian, bukan subjek yang harus dilindungi.  


Hingga berita ini diturunkan, belum ada permintaan maaf atau klarifikasi resmi dari pihak penyelenggara maupun pemerintah daerah. 


Publik mendesak adanya evaluasi menyeluruh, termasuk penanggung jawab acara, agar kejadian serupa tidak kembali terulang.  


Tokoh muda Desa Cogreg, Yandi, menegaskan, “Fasilitas kesehatan boleh megah, tapi tanpa empati dan manajemen yang manusiawi, peresmian hanya akan menjadi panggung kosong yang menyisakan luka bagi masyarakat," kritik Yàdi. (Jis/A)

Potretbogor Iklan dan TV