Mimbar Bebas RTL LKM UMBARA 2026: Mahasiswa Gugat Keadilan Pendidikan di Halaman Kampus



BOGOR I POTRETPENDIDIKAN— Halaman Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Bogor Raya (UMBARA) berubah menjadi ruang perlawanan intelektual pada Senin (14/9/2026). 


Peserta Rencana Tindak Lanjut Latihan Kepemimpinan Mahasiswa (RTL LKM) BEM 2026 menggelar Mimbar Bebas bertema “Merdeka dalam Pendidikan, Berkeadilan dalam Kehidupan”, sebuah panggung yang memadukan kritik, refleksi, dan seni perlawanan.


Mimbar ini bukan sekadar pemenuhan tugas kepemimpinan, tetapi manifestasi keberanian mahasiswa untuk menggugat ekosistem pendidikan yang mereka anggap belum sepenuhnya berpihak pada keadilan.Suara Keresahan Menggema dari Halaman Kampus.


Sejak mimbar dibuka, mahasiswa bergantian menyampaikan orasi yang menyoroti persoalan mendasar dunia pendidikan: Kelayakan fasilitas kampus,Keadilan kebijakan administrasi dan Transparansi akademik


Bagi mereka, pendidikan tidak boleh direduksi menjadi rutinitas kelas dan administrasi. Pendidikan adalah hak asasi, dan hak itu harus hadir dalam bentuk fasilitas yang layak, kebijakan yang adil, serta keberpihakan terhadap mahasiswa dari berbagai latar sosial-ekonomi.


“Pendidikan bukan hanya tentang bagaimana mahasiswa mendapatkan ilmu, tetapi bagaimana mereka mendapatkan hak untuk belajar dalam lingkungan yang layak, adil, dan manusiawi,” seru salah satu orator, Apip, Selasa (15/9/2026).


Puisi sebagai PerlawananKritik tidak hanya disampaikan lewat orasi. Puisi-puisi bernada perlawanan dibacakan, menghadirkan sisi reflektif bahwa keresahan mahasiswa lahir dari kecintaan mereka terhadap institusi pendidikan.


Pertunjukan puisi berantai menjadi puncak acara. Bait demi bait disambung oleh peserta, merangkai satu pesan utuh: perjuangan tidak pernah dimenangkan oleh satu suara, melainkan oleh keberanian yang saling menopang.


Pesan Tegas: Mahasiswa Garda Terdepan Pendidikan


Melalui Mimbar Bebas ini, peserta RTL LKM BEM 2026 menegaskan bahwa mahasiswa adalah penjaga nalar dan pengawal keadilan pendidikan. Kritik yang disuarakan bukanlah perlawanan membabi buta, tetapi ikhtiar merawat kampus agar tetap menjadi ruang tumbuh yang sehat.


Pendidikan yang berkeadilan, kata mereka, harus mampu merangkul mereka yang memiliki keterbatasan. Kesempatan belajar tidak boleh menjadi privilese bagi yang mampu secara finansial. Mimbar Bebas ini menjadi pengingat bahwa suara mahasiswa tidak boleh menguap menjadi keluhan di sudut kantin, tetapi harus dikristalisasi menjadi tindakan.


Menyalakan Budaya Kritis di UMBARA


Aksi di hari Senin itu diharapkan menjadi pemantik budaya kritis dan partisipatif di UMBARA. Sebab kemerdekaan pendidikan tidak cukup dijanjikan di atas kertas—kemerdekaan harus dirasakan melalui fasilitas yang layak, kebijakan yang transparan, dan iklim kampus yang berkeadilan.(bu/b)

Potretbogor Iklan dan TV