Kepsek Jadi Vokalis, Guru Jadi Band, SMPN 1 Gunungputri Launching “Konser Pendidikan” di HJB ke-544



CIBINONG I POTRETPENDIDIKAN – Festival Hari Jadi Bogor (HJB) di Stadion Pakansari tahun ini bukan hanya pesta budaya, tapi juga panggung inovasi pendidikan. 


SMPN 1 Gunungputri tampil memukau dengan format tak biasa: kepala sekolah jadi vokalis, guru jadi band pengiring, dan murid jadi bintang utama.


O-BAND: Dari Rapat Guru ke Panggung


FestivalBand sekolah O-BAND yang biasanya tampil di rapat dinas kini naik level ke panggung Pakansari. Dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah Omay Komara, O-BAND sukses mencuri perhatian ribuan pengunjung.


Tenaga pendidik yang sehari-hari mengajar matematika dan IPA kini berganti peran jadi gitaris dan drummer. Penonton pun bersorak melihat harmoni antara guru dan murid yang benar-benar “merdeka belajar” bahkan “merdeka bernyanyi.”


Deretan Penyanyi Muda


Masayu (kelas 7) – suara lembut yang bikin penonton lupa tugas sekolah.Syifa Nurfadilah Wijaya (kelas 8) – tampil penuh percaya diri dengan gaya diva muda.Gisel (SMPN 1 Parung) – kolaborasi lintas sekolah yang menambah warna musik.


Omay Komara selaku Kepala Sekolah sekaligus vokalis utama, membuktikan bahwa kepemimpinan bisa juga bernada tinggi. Tari Luluangkara: Seni Lokal yang MenduniaSelain musik, tari Luluangkara hasil ekstrakurikuler seni tampil memukau. 


Gerakan anggun para siswa menjadi simbol pelestarian budaya lokal di tengah arus modernisasi. Penonton sempat mengira ini flashmob, tapi ternyata latihan resmi yang sudah disiapkan berbulan-bulan.


Sementara itu, Ketua Komite SMPN 1 Gunungputri, H. Yudi Sucipta, SE, memberikan apresiasi tinggi atas penampilan spektakuler  tersebut.


“Kami sangat bangga. Ini bukan sekadar hiburan, tapi bentuk nyata pendidikan yang kreatif dan kolaboratif. Kepala sekolah, guru, dan siswa bersatu dalam satu panggung. Inilah pendidikan yang hidup dan berjiwa seni,” ujar Yudi.


Ia menambahkan, konsep “konser pendidikan” ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain untuk menyalurkan bakat seni tanpa meninggalkan nilai edukatif.


"Kalau belajar bisa sambil bernyanyi, kenapa tidak? Pendidikan harus menyenangkan, bukan menegangkan,” tambahnya dengan senyum lebar.        Editor: Bc

Potretbogor Iklan dan TV