Film Suamiku Lukaku: Jadi Pemantik Diskusi Publik tentang KDRT di Medan
#Pendidikan #Politik #BogorRaya #Peristiwa #Nasional #Hukum & Kriminal #Pemerintah #Teknologi #Lifestyle #Ekonomi #Olahraga #Kesehatan
MEDAN I POTRETEDUKASI– Suasana hangat dan penuh empati menyelimuti Kopi Layang Setiabudi, Medan, saat Komunitas Perempuan Berkebaya (KPB) bersama SinemArt, Tarantella Pictures, The Big Picture, dan Aliansi Sumut Bersatu (ASB) menggelar diskusi publik.
Mengangkat tema, “KDRT di Sekitar Kita, Sadarkah Kita?”. Acara ini diawali dengan pemutaran film “Suamiku, Lukaku” yang menggugah kesadaran tentang kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
*Film Sebagai Pemantik Kesadaran*
Disutradarai oleh Viva Westi dan Sharad Sharan, film “Suamiku, Lukaku” menghadirkan kisah nyata yang menyentuh hati, diperkuat oleh akting Ayu Azhari, Acha Septriasa, Baim Wong, Raline Shah, dan Mathias Muchus. Film ini bukan sekadar hiburan, melainkan seruan untuk bertindak.
“Kekerasan tidak boleh terjadi di dalam sebuah hubungan karena mempunyai rasa aman bagi kedua belah pihak itu penting dalam perjalanan hidup kita,” tegas Viva Westi dalam sesi diskusi.
Ia juga menekankan pentingnya pemahaman yang benar tentang definisi dan ciri-ciri KDRT agar tidak terjadi bias atau kesalahpahaman di masyarakat.
*Suara Para Pendamping dan Penyintas*
Carolina Simanjuntak, konselor dan pendamping korban KDRT dari ASB, menyampaikan bahwa ketakutan perempuan untuk melapor bisa berdampak panjang, termasuk trauma pada anak.
“Perempuan harus berani, ketika mengalami kekerasan jangan didiamkan, dilaporkan saja agar tidak menimbulkan trauma. Trauma tidak hanya membekas ke si perempuan saja yang mengalami, bisa jadi anak juga akan mengalaminya,” ujarnya.
Ia menambahkan, “Ketika anak melihat orang tuanya mengalami kekerasan, bisa jadi dia akan menormalisasi. Bisa jadi di kemudian hari ketika dia dewasa bahwa ini memang kodratku, tidak apa-apa kalau aku melukai pasanganku, karena waktu kecil aku melihat orang tuaku (ayah) memukuli ibuku.”
Para penyintas yang hadir mengungkapkan bahwa budaya patriarki dan stigma agama yang bias turut memperkuat anggapan bahwa perempuan yang melaporkan KDRT adalah perempuan gagal. Faktor ekonomi, masa depan anak, dan stigma terhadap status janda juga menjadi penghalang besar.
*Generasi Muda Ikut Bersuara*
Suara generasi muda dalam diskusi ini turut mendorong para ibu untuk tidak takut menyampaikan kekerasan yang dialami dan berani mengambil keputusan, termasuk perceraian jika diperlukan.
Menurut Carolina, film “Suamiku, Lukaku” berhasil menggambarkan berbagai bentuk KDRT: fisik, psikis, seksual dalam pernikahan, hingga kekerasan ekonomi akibat ketimpangan sosial.
Para penyintas mengapresiasi film tersebut karena dianggap mewakili suara mereka yang selama ini terpinggirkan. Mereka juga menekankan pentingnya memiliki komunitas pendukung yang bisa mendengar dan memahami persoalan mereka.
“Adakah kesulitan dalam membuat film ini? Pasti. Membuat adegan-adegan seperti di film ini tidak mudah…di dalam film ini kami menggunakan coach khusus untuk adegan intimacy dan KDRT-nya,” ungkap Viva Westi tentang proses produksi.
*Apresiasi dan Harapan*
Lia Nathalia, Ketua KPB, menyampaikan rasa bangganya atas antusiasme peserta diskusi yang berasal dari berbagai latar belakang.
“Kegiatan edukasi terkait KDRT dengan preview film Suamiku, Lukaku dari SinemArt di Medan ini sangat luar biasa karena para peserta diskusi beragam dari segi usia, jenis kelamin, profesi, suku bangsa dan agama menjadikan diskusi berlangsung interaktif," jelasnya.
"Melalui kegiatan edukasi ini, pesan jelas untuk berhenti menormalisasi KDRT dan jangan diam menghadapi KDRT,” tambah Lia.
*Tantangan dan Harapan Nasional*
*
Menurut data Komnas Perempuan 2023, lebih dari 339.000 kasus kekerasan terhadap perempuan tercatat, mayoritas terjadi di ranah domestik. Namun, angka sebenarnya diyakini jauh lebih tinggi karena banyak korban memilih diam.
Film “Suamiku, Lukaku” diharapkan menjadi pemicu gerakan nasional untuk memutus rantai kekerasan, memperkuat sistem hukum, dan membangun solidaritas lintas komunitas. Seni menjadi alat transformasi sosial, dan suara para penyintas menjadi kekuatan perubahan.
Editor: Asep

