BOGOR RAYA 

Kesal,Puluhan Warga Tutup Galian Cicadas

POTRETBOGOR.COM | Puluhan warga Desa Cicadas Kecamatan Gunung putri Kabupaten Bogor, menutup jalan perlintasan Galian Tanah merah yang berada kampung Cicadas Rawa Bule RT 03 RW 06, Kamis (15/10/2020).

Demo dan protes disertai menutup jalan perlintasan Galian Tanah merah meski hal ini sudah tiga kali dilakukan, Namun tidak ada Respon dan tanggapan yang pasti dari pihak kontraktor dan Pemdes setempat maupun pihak Pertamina. Karena sejuh ini, masyarakat meminta kejelasan Izin galian dan Izin perlintasan galian tanah merah yang melintasi Pipa Gas Pertamina.

“Kami Sudah melakukan penyampaian keberatan, karena izin galian dan izin perlintasan jalan Dump Truck itu belum jelas. Apa lagi kami yang terkena imbasnya dari galian tanah dan perlintasan mobil pengangkut tanah merah tersebut,” ujar Yusuf salah satu kordirnator warga dilokasi.

Keberatan warga atas perlintasan galian yang mengancam keselamatan warga khususnya warga yang disekitar pipa gas Pertagas Pertamina, Warga takut pipa gas meledak karena jembatan yang dibuat dirasa kurang memenuhi standar dan rentan bahaya.

“Beberapa warga juga mengeluh terutama mereka yang berdekatan dengan lokasi perlintasan takut meledak mereka minta ganti rugi kemana apa lagi izin galian tanah merah tersebut patut dipertanyakan,” keluhnya.

Protes warga dilakukan dengan melakukan demo dan menutup jalan perlintasan yang dilewati mobil pengangkut tanah, warga meminta agar kegiatan atau aktivitas galian dihentikan sebelum surat perizinan dari pertagas (Pertamina) ada dan jelas walaupun saat ini belum ada dampak yang signifikan kepemukiman warga namun imbasnya jalan retak dan debu serta jalan licin ketika diguyur hujan terangnya

Dijelaskan Yusuf, galian tanah merah yang diangkut dump truck berceceran dijalan dan melintasi Pipa gas Pertagas Pertamina. Akibatnya debu sering menganggu dan jalan Cor yang baru jadi retak serta bahaya pipa gas pertamina meledak karna lintasan mobil melalui pipa gas yang diduga tidak memenuhi standar dari Pertamina.

“Seharusnya kepala desa bisa mendengar keluhan dan kekawatiran kami apa lagi kami ini warganya jangan nanti karna kepentingan mereka kami yang jadi korban,” tambah Yusuf.

Menurutnya, usai aksi ini berahir mediasi dengan pihak pemegang SPK (kontraktor). Kemudian warga akhirnya bisa bernapas lega secara membuat kesepakatan dengan pihak kontraktor yang dituangkan dalam surat kesepakatan dan ditanda tanganin dari beberapa element masyarakat termasuk Nikson selaku pemegang SPK juga disaksikan oleh pihak Polsek dan Koramil Gunung putri

“Pihak Kontraktor bersedia menghentikan dulu aktifitasnya sebelum izinnya jelas. Kami juga berharap kepala desa agar kiranya bisa mendengar dan merespon keresahan kami, karena ini adalah bagian dari tanggung jawabnya,” pungkasnya.(cek)

Related posts